• SMA N 2 KENDAL
  • Cinta Lingkungan dan Budaya

Kera Sakti di Sekolah, Solusinya ? ...

 

Kera Sakti di Sekolah, Solusinya ? ...

Dwi Syaeful Mujab, Pegiat Bahasa Jawa SMA Negeri 2 Kendal.

 

Kera Sakti (Kekerasan Seksual Semakin Tinggi) di sekolah, terbukti dengan maraknya berita tentang tingginya angka kekerasan seksual di sekolah. Berita terakhir (hot news) yang membuat gempar dunia pendidikan Indonesia adalah adanya kasus di salah satu Kabupaten, wilayah pesisir utara pulau Jawa, yang diduga memakan puluhan korban siswa menengah pertama oleh gurunya. Catatan mengenai kera sakti agaknya lumayan banyak, lalu solusinya adalah peningkatan pembelajaran berani berbicara dan berpendapat dengan strategi PSE perlu ditingkatkan, sebagai salah satu strategi dalam menekan angka kera sakti.

Berawal dari paribasan (peribahasa) Jawa, tentang yen wani aja wedi wedi, yen wedi aja kumawani, yang artinya kalau bertindak berani jangan takut, kalau takut jangan berlagak berani. Oleh karenanya dalam pembelajaran dan penerapan budaya positif di sekolah, perlu pembiasaan penerapan bahawa murid berani berbicara (speak up) dan berpendapat. Murid dibiasakan untuk berani berbicara dan berpendapat mulai dari pembelajaran di dalam kelas, di lingkungan sekolah, di lingkungan keluarga dan masyarakat. Berani berbicara atau mengemukakan pendapat sampai ke akar lingkungan keluarga dan masyarakat, dibiasakan dengan penggunaan bahasa Jawa ragam krama sebagai bahasa pengantar. Berani berbicara dan berpendapat yang dimaksud adalah murid menjadi aktif dan terbiasa berbicara dimuka umum, dan dimanapun berada.

Melihat murid menjadi aktif, berani berani berbicara dan berpendapat dapat menjadikan pelaku kekerasan seksual di sekolah, menjadi mawas diri, mengurungkan niatnya dan bahkan memadamkan gelora kekerasan seksual tersebut. Budaya positif berani berbicara dan berpendapat ini perlu dilatih dalam penerapan pembiasaannya. Pola pembiasaannya, bisa dimulai dari seringnya melakukan diskusi diskusi sederhana, baik melalui mata pelajaran, diskusi umum, konseling, dan diskusi dalam forum intra maupun ekstrakurikuler. Pembiasaan murid berani berbicara dan berpendapat dapat memunculkan karakter murid yang berani mengambil sikap, berani mengeluarkan pendapat. Karakter berani berbicara yang ditekankan ke murid tidak hanya pada lingkungan kecil kelas, sekolah dan keluarga saja, melainkan sampai ke lingkungan masyarakat. Pada pelaksanaannya pembiasaan bahasa Jawa ragam krama menjadi penyanding dalam murid pembiasaan berbicara dan berpendapat sampai ke lingkungan masyarakat.

Karakter murid yang dimunculkan dan dikembangkan adalah murid yang berani speak up, murid yang berani berbicara dan berpendapat. Budaya positif ini dapat terlaksana di sekolah dengan kerja sama oleh semua pihak warga sekolah, dan lingkungan masyarakat. Karakter murid berani berbicara dan berpendapat, dapat terwujud dengan pendampingan program PSE (penerapan sosial emosional). Pendekatan PSE yang maksud adalah :

  1. Memahami, menghayati, dan mengelola emosi
  2. Menetapkan dan mencapai tujuan positif
  3. Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain
  4. Membangun dan mempertahankan hubungan yang postif
  5. Membuat keputusan yang bertanggung jawab

Budaya positif pembiasaan karakter murid yang berani berbicara dan berpendapat, dapat sejalan dengan adanya penerapan pembelajaran sosial emosional dalam mata pelajaran bahasa Jawa, sebagai salah satu mata pelajaran yang dapat mengakomodir kegiatan pembiasaan budaya positif tersebut. Sebagai gambaran sebagai berikut; pelaksanaan pendekatan sosial emosional dalam memahami, menghayati, dan mengelola emosi, dalam mata pelajaran bahasa Jawa, ini terakomodir dalam kegiatan sebelum pembelajaran. Murid diminta untuk berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, murid diminta untuk dapat mengelola emosi ketika berdiskusi dengan temannya, pendekatan menggunakan pembiasaan bahasa Jawa ragam krama dapat menunjang pengelolaan emosi murid dalam berdiskusi.

Bagian kedua dalam pendekatan sosial emosional adalah menetapkan dan mencapai tujuan positif. Sebelum memulai pembelajaran di awal tahun, murid berdiskusi bersama, aktif untuk berbicara dan mengeluarkan pendapatnya tentang keyakinan kelas, berupa kesepakatan kesepakatan warga kelas, tentang tujuan positif bersama. Misalnya keyakinan kelas berupa hadir tpat waktu, dalam kelas wajib mengeluarkan pendapat dan berbicara, larangan tentang menjadi siswa pendiam, dan seterusnya.

Merasakan dan menunjukan empati kepada orang lain, dapat menjadi bagian penting dalam pengelolaan sosial emosional sebagai upaya pembiasaan penerapan budaya postif karakter murid berani berbicara dan berpendapat. Murid diberi kebebasan berbicara dan berpendapat dalam mengelola empatinya kepada orang lain, ini akan menjadi murid lebih peka dalam kehidupan sehari hari. Pembiasaan berbicara tentang empati ini, dapat dilakukan dari diskusi di dalam kelas, empati melihat perbedaan sikap, perubahan sikap, sampai ke empati dalam menentukan tujuan bersama keyakinan kelas, yang mana dari satu sama lain PSE ini saling melengkapi.

Karakter murid disisipi dengan penerapan pengelolaan sosial emosional, membangun dan mempertahankan hubungan yang postif sangat penting diberikan dalam pembiasaan murid menjadi karakternya. Membangun relasi, agar pergaulan dan sikap yang muncul dalam upaya pembiasaan berani berbicara dan berpendapat ini dapat muncul dengan baik. Serta membuat keputusan yang bertanggung jawab merupakan bagian penting dalam sarana atau upaya pembentukan karakter budaya baik, bahwa murid dapat lantang berbicara dan berpendapat.

Pada akhirnya solusi dalam menekan angka Kera Sakti (Kekerasan Seksual Semakin Tinggi) di sekolah, adalah penerapan budaya positif dengan karakter murid berani berbicara dan berpendapat, dengan sisipan aspek pengelolan sosial emosional. Pada mata pelajaran bahasa Jawa pada khususnya, dan penerapan praktik baik, budaya positif sekolah, maka karakter murid yang terbiasa dengan berani berbicara dan berpendapat, akan membuat pelaku kekerasan seksual itu, enggan atau mengurungkan niatnya untuk beraksi di lingkungan sekolah.

 

 

Dwi Syaeful Mujab, S.Pd., M.Pd. merupakan Guru Muda di SMA Negeri 2 Kendal, selain sebagai guru Bahasa Jawa, aktif juga sebagai pemerhati Bahasa dan Budaya Jawa, sedang giat giatnya meluncurkan aksi Literasi Digital Bahasa dan Aksara Jawa., serta aktif mengkampanyekan gerakan berani berbicara dan berpendapat.

 

 

 

 

Halaman Lainnya
Lab Kimia

13/09/2023 14:39 - Oleh Administrator - Dilihat 74 kali
GERALINUM

12/09/2023 12:37 - Oleh Administrator - Dilihat 57 kali
Perempuan itu Sebagai Kanca Wingking, Macak Manak dan Masak

  Perempuan itu Sebagai Kanca Wingking, Macak Manak dan Masak  Oleh Dwi Syaeful Mujab, SMA Negeri 2 Kendal Perempuan itu (kodratnya) sebagai kanca wingking, dia hanya sebagai

30/05/2023 18:19 - Oleh Administrator - Dilihat 1820 kali
Sumpil Manak di Angkringan Mas percil

Sumpil Manak di Angkringan Mas Percil Sebagai Sarana “meng” Edukasi Kependudukan   Oleh : Dwi Syaeful Mujab, S.Pd., M.Pd. SMA Negeri 2 Kendal   Ketika mendengar k

30/05/2023 17:50 - Oleh Administrator - Dilihat 429 kali
Masjid

25/05/2023 08:12 - Oleh Administrator - Dilihat 313 kali